Oleh: elqassam | Oktober 8, 2008

The Spirit Carries On

Where did we come from,
Why all here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, “Life is too short,”
“The here and the now”
And “You’re only given one shot”
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we’ve got?

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

“Move on, be brave
Don’t weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear”

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Victoria’s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I’m here
It’s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

The Spirit Carries on

Oleh: elqassam | Oktober 7, 2008

Ketika el Qassam, terluka

sayap-sayap patah…

harapan hilang… bukan oleh pedang…

tapi oleh cinta… melukai.. menyayat… berdarah….

mungkin bukan sebuah cerita indah… mungkin aku bukan elqassam..

semua menjadi tidak mungkin…

ketika el Qassam, terluka…

Oleh: elqassam | September 14, 2007

Teruntuk saudara kami  yang bersama Allah, 

Salam Untukmu, 

Kami tahu, betapa engkau tengah memadu kasih dengan NYA, menikmati cinta Nya, dan mencintai Nya sepenuh hati kalian Tapi, tahukah engkau, kami disini, kami orang-orang yang tengah dan pernah menyimpang dari jalan NYA, engkau melupakan kami, engkau meninggalkan kami Tahukah engkau, bahwa diantara dosa kami, fitrah kami yang tidur bahkan mati, memintamu untuk membangunkan kami.. 

Tahukah engkau, kami orang-orang yang kehilangan Allah dari hati kami, orang-orang yang ketika suara penyerunya diperdengarkan, tengah asyik dalam menikmati dunia, menikamti nafsu kami, orang-orang yang bahkan ketika tengah sholat, namun hanya beroleh kehampaan, membutuhkan Allah lewat uluran tanganmu, senyummu untuk kami… 

Tahukah engkau, berat perjalanan kami untuk kembali kepada NYA, berat bagi kami untuk mencari cinta NYA, karena kami belum terbiasa, karena kami, belum memahaminya, karena kami terlalu hitam, karena kami terlalu keras, karena kami terlalu buta, karena kami terlalu nafsu… 

Tapi engkau tertawa, menertawai kami, yang penuh kelemahan, engkau menganggap kami bodoh, engkau meninggalkan kami, karena merasa engkaulah yang terbaik dalam agama ini, benarkah? tanyalah pada dirimu sendiri… 

Tahukah engkau, kami memang bukan golonganmu, kami bukan kelompokmu, tapi sungguh kami membutuhkan uluran tanganmu, karena Allah terasa sangat jauh bagi kami, dan kami, memerlukan engkau yang telah terbiasa bersama Nya, dekatkan kami dengan Nya 

Tapi engkau, meninggalkan kami, engkau merasa lebih perlu membantu di ujung pulau, tapi engkau lupa pada kami tetanggamu, engkau merasa perlu membantu diujung lautan, tapi engkau lupa kami, sahabatmu.. bukankah lebih baik jika engkau membantu kami bersama-sama, semua 

Engkau melupakan kami, saudaramu… 

Engkau telah tahu, tapi pahamkah engkau, bahwa kami bagian dari tubuhmu yang engkau cintai, bukankah engkau tak ingin ada bagian tubuhmu yang merasakan panasnya neraka? Lalu mengapa engkau meninggalkan kami.. 

Tahukah engkau, engkau telah menjauhkan kami darimu, dengan menciptakan jurang pemisah yang lebar, yang hanya dapat dilompati oleh orang-orang dari kami yang memiliki tekad kuat, dan yang telah mendapatkan nikmat hidayah Allah, engkau membuat istilah-istilah yang sulit kami pahami, engkau menciptakan bahasa yang tak kami mengerti, engkau membuat kelompokmu sendiri, merasa engkau yang paling benar, dan engkau telah melupakan kami… 

Engkau, membuat kelompokmu sendiri, kelompok dimana kami kesulitan untuk menjamahnya, menjadikannya sebagai bagian dari hati kami… 

Setiap manusia, akan berkumpul dengan sejenisnya, dan kami tidak akan berkumpul denganmu, kami tidak akan berkumpul dengan orang-orang yang melupakan kami, kami akan berkumpul dengan Nya atau bahkan kami tetap akan berkumpul dengan penjahat-penjahat hati, yang lebih sigap mencari mangsa… 

Benarkah engkau mengingat kami dalam doamu? Tapi mengapa tiada uluran tangan darimu, sebagai wujud nyata doamu 

Engkau mungkin merasa belum benar-benar mampu merengkuh kami, dengan alasan, sedikit ilmumu, dengan dalih, mulai dari diri sendiri, tahukah engkau, engkau egois, engkau telah menjadi kikir kepada saudaramu, engkau telah menafikan kami, bagian dari tubuhmu, mengapa engkau tidak berkata, ayo kita mulai bersama-sama… engkau tidak mengajak kami, ayo kita mulai bersama-sama… 

Ilmumu yang sedikit telah membuatmu kikir berbagi dengan kami, kapankah engkau kan berilmu yang banyak, sedangkan ilmu didunia begitu luasnya, bagaimana jika engkau telah beroleh ilmu yang banyak? Mungkin engkau akan melupakan kami… 

Para Kaisar kafir pun pernah mendapat surat cinta dari Sang Nabi, para sahabat Rasul pun pernah mengirimkannya, tapi mengapa engkau tak mengirimkan sepucuk surat cintamu pada kami, saudaramu sendiri… 

Hati kami memang tlah keras, hitam, mati, tapi bagaimana dengan hatimu terhadap kami 

Wahai saudara kami, sungguh lemah iman kami, sehingga ketika kami jatuh, rengkuhlah tangan kami, ketika kami lupa, ingatkan kami, ketika kami rusak, perbaiki kami, ketika kami teraniaya dan terzalimi, menangkan kami, ketika kami bersedih, ceriakan kami, ketika kami lapar, beri kami makan, ketika kami telanjang, beri kami pakaian, ketika kami salah, ingatkan kami tentang Allah, karena engkaulah kekasih Allah 

Wahai saudara kami, bukankah kita harus saling mengingatkan dalam kesabaran, kebenaran? Kami telah mengingatkan engkau, maka kami menunggumu untuk mengingatkan kami 

Surga itu bukanlah milikmu, janganlah engkau ingin memasukinya sendiri, seolah engkau adalah pemiliknya… 

Sukakah engkau memakan daging saudaramu sendiri? Berdiri gembira diatas kehancuran kami… 

Engkau tak ingin neraka, karena engkau tahu beratnya siksa, tapi mengapa engkau membiarkan kami memasukinya… telah putihkah hatimu…? 

Ummati… ummati.. ummatiRasulullah menangis mengingat kami, ketika Sang Izrail menjemputnya, tapi mengapa engkau malah menyebut, ana.. ana.. ana… lupakah engkau terhadap kami, akhi.. akhi.. akhi… 

Tidak takutkah engkau, bahwa akan ada orang-orang diantara kami, yang akan menuntumu nanti, atas apa yang telah engkau lakukan kepada kami, meninggalkan kami, melupakan kami, saudaramu sendiri 

Kami mungkin membencimu, membakarmu, menghinakanmu, tapi itu sungguh karena kami tak tahu, belum tahu.. beri tahu kami… 

Kami yang tak tahu, maka beri tahu kami, karena sesungguhnya kami ingin, jika kami tahu… 

Tahukah engkau wahai saudara kami…Dalam tangis ini, kami merinduimu, orang-orang yang bersama Allah, kami merindui Mu, Ya RabbDalam kerasnya hati, matinya hati, hitamnya hati kami, kami merinduimu, orang-orang yang bersama Allah, kami merindui Mu, Ya RabbBukalah matamu lebar-lebar, dengarkanlah baik-baik, hiruplah dalam-dalam, sentuhlah dengan pasti, kami ada disekitarmu… 

Kami yang tidak tahu, menuliskan ingin kami dalam coretan-coretan usang, beri tahu kami, atau… Lembaran Tjoretan Oesang ini terbang bersama angin, jatuh di lumpur hitam, dan terlupakan…

Oleh: elqassam | September 4, 2007

Senangkanlah Hatimu…

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Arial Narrow”; panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

SENANGKANLAH HATIMU
Oleh : Al Anisah Mai

Dihadapan tugu keadilan, berdirilah seorang pemimpin besar, sedang berpidato dihadapan beribu-ribu kaum. Maka terdengarlah olehku suaranya, demikian bunyinya :

Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena dihadapanmu terbentang kesempatan mengerjakan hal yang sulit-sulit. Perbuatanmu disyuuri orang,engkau beroleh pujian dimana-mana. Engkau menjadi mulia, tegakmu teguh. Dihadapan engkau terhampar permadani kepujian, sebab itu engkau beroleh kebebasan dan kmerdekaan.

Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pula hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyait jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang hasad dan dengki kepad engkau lagi, lantaran kemiskinanmu. Kefakiran dan kemiskinan adalah nikmat, yang nikmat yang tidak ada jalan bagi orang lain buat kecil hati, dan tidak ada pintu bagi kebencian.

Kalau engkau dermawan, senangkanlah hatimu! Karena dengan kedermawanan engkau dapat mengisi tangan yang kosong, telah dapat menutup tubuh yag bertelanjang, engkau tegakkan orang yang telah hampir roboh. Dengan sebab itu engkau telah menuruti perintah hatimu dan engkau beroleh bahagia, beruluh bahkn beratus makhluk Tuhan akan sanggup menhantarkan pujian kepada Tuhan lantaran pertolonanmu. Kesenangan hatimu yang tadinya cuma satu, sekarang akan berlipat ganda, sebab telah banyak orang yang telah mengecap nikmatnya.

Dan kalau sekiranya engkau tak kuasa jadi dermawan, itupun senangkanlah pula hatimu! Sebab engkau tidak akan bertemu degan suatu penyakit yang selalu menular kepada masyarakat menusia, yaitu tiada membalas guna, penghilang jasa. Mereka mengambil kebaikn budi dan kedermawananmu itu menjadi senjata untuk memukulkan tuduhan-tuduhan yang rendah. Saat yang demikian mesti datang kepada tiap-tiap dermawan, yang menyebabkan hati kerapkali patah dan badan kerapkali lemah, sehingga hilang kepercayaan kepada segenap manusia, disangka manusia tidak pembalas guna. Padahal langkah belum sampai lagi kepada puncak kebahagiaan dan beroleh ampunan dari Tuhan.

Kalau engkau masih muda remaja, senangkanlah hatimu! Karena pohon pengharapanmu masih subur, dahan-dahannya masih rindang dan rimbun. Tujuan kenang-kenangan masih jauh. Sebab umurmu masih muda, mudahlah bagimu menjalankan mimpi menjadi kejadian yang sebenarnya.

Dan kalau engkau telah tua, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari medan pertempuran dan perjuangan yang sengit, dan engkau telah beroleh beberapa ilmu yang dalam-dalam di dalam sekolah hidup. Engkau telah tahu firasat, mengerti gerak-gerik manusia dan tahu kemana tujuan jalan yang ditempuhnya. Oleh sebab itu, maka segala pekerjaan yang engkau kerjakan itu, kalau engkau suka, lebih banyak akan membawa faedah dan lebih banyak tersingkir dari pada bahaya. Satu detik dari pada umurmu dimasa tua, lebih berharga dari pada bertahun-tahun di xaman muda, sebab semuanya telah engkau lalui dengan pandangan yang terang dan pengalaman yang pahit.

Kalau engkau dari turunan orang mulia, tenangkanlah hatimu! Sebab engkau telah beroleh kemenangan yang sukar sekali didapat orang, yaitu orang banyak percaya padamu, dengan tidak perlu beroleh nasihat dari siapa-siapa lagi.

Dan kalau engkau dari golongan bawah, senangkan pula hatimu! Karena lebih baik engkau menjadi pangkal kemuliaan anak cucu dan turunanmu, menjadi bintang dan pemancang perumahan. Jangan hanya menjadi ujung, memikul nama orang lain, tetapi diri sendiri tak campur memasukkan modal dalam kemuliaan itu.

Kalau banyak handai tolan dan sahabatmu, senangkanlah hatimu! Karena dirimu tergambar dan terpeta di dalam hati tiap-tiap sahabat itu. Kalau engkau menang di dalam kalanan sahabat yang banyak itu, lezat rasanya kemenangan, dan kalau kalah tidak begitu terasa. Lantaran banyaknya orang yang menghargai dan memperhatikan engkau, engkau dapatlah isyaf, tandanya harga dirimu mahal dan tibanganmu berat. Yang penting ialah engkau dapat keluar dari daerah mementingkan diri seorang, memandan hanya engkau yang benar, lalu masuk ke dalam daerah yang baru, yaitu mengakui ada pula orang lain yang pintar, yang berpikir kuasa menimbang.D

an jika musuhmu banyak, senangkan pulalah hatimu! Karena musuh musuh itu adalah anak tangga untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Banyak musuh menjadi bukti atas sulitnya pekerjaan yang engkau kerjakan. Tiap-tiap bertambah maki celakanya kepada engkau, atau hasad dengkinya, atau mulutnya yang kotor dan perangainya yang keji, bertambalah teguhnya perasaan bahwa engkau bukan barang murah, tetapi barang mahal, dari celaannya yang benar-benar mengenai kesalahanmu, engkau dapat beroleh pengajaran. Mula-mula maksudnya hendak meracunmu dengan serangan-serangannya yang kejam dan keji, maka oleh engkau sendiri, engkau saring racun itu dan engkau ambil untuk mengobati dirimu mana yang berfaedah, engkau buangkan mana yang lebihnya. Ingatlah, pernahkah seekor burung elang yang terbang membubung tinggi memperdulikan halangan layang-layang yang menghalanginya?

Kalau badanmu sehat, senangkanlah hatimu! Tandanya telah nyata pada dirimu kekayaan Tuhan dan kemuliaan nikmat-Nya, lantaran badan yang sehat mudahlah engkau mendaki bukit kesusahan dan menempuh padang kesulitan.

Dan kalau engkau sakit, senangkan pulalah hatimu! Karena sudah ternyata bahwa dirimu adalah medan tempat dimana perjuangan diantara dua alam yang dijadikan Tuhan, yaitu kesehatan dan kesakitan. Kemenangan akan terjadi pada salah satu yang kuat, kesembuhan mesti datang sesudah perjuangan itu, baik kesembuhan dunia, ataupun kesembuhan yang sejati.

Kalau engkau menjadi orang yang luar biasa, senangkanlah hatimu! Karena pada tubuhmu telah ternyata cahaya yang gilang gemilang, tandanya Tuhan selalu melihat engkau dengan tenang sehingga menimbulkan kesuburan dalam fikiranmu, dilihat-Nya otakmu sehingga cerdas, dilihatnya matamu sehingga jadi azimat, dilihat-Nya suaramu sehingga jadi sihir. Bagi orang lain, perkataan dan tiap-tiap suku kalimat yang keluar dari mulutnya hanya menjadi tanda bahwa dia hidup saja, tetapi bagi dirimu sendiri menjadi cahaya yang berapi dan bersemangat, boleh membakar dan boleh mendinginkan, boleh merendahkan dan boleh meninggikan, boleh memuliakan dan boleh menghinakan, sehingga bolehlah engkau berkuasa berkata kepada alam, “adalah”, sehingga diapun “ada”.

Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu, tak ada orang lain yang dengki padamu, tak ada orang yang meniatkan jatuhmu, mata tak banyak memandangmu. Itu, dihadapanmu ada puncak bukit kemuliaan orang yang masyhur itu berdiri diatas masyarakat, dan engkaupun salah satu dari anggota masyarakat itu. Rumah batu yang indah, berdiri diatas kumpulan tanah dan pasir yang kecil-kecil. Dengan demikian itu, engkau akan merasai kesenangan hati yang erap kali tak didapat oleh yang bibirnya tak pernah merasai air hidup dan rohnya ta pernah mandi di dalam ombak ilham.

Kalau sahabatmu setia kepadamu, tenangkanlah hatimu! Karena pertukaran siang dan malam telah menganugrahi engkau kekayaan yang paling kekal.

Dan kalau kawanmu khianat itu mungkir dan meninggalkan engkau, tandanya dia telah memberikan jalan yang lapang buat engkau.

Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu. Itulah perjuangan yang menentukan hidup atau mati, dan itulah yang meninggikan nilai. Ketahuilah bahwa tidaklah didapat suatu bangsa yang terus menerus dijajah.

Dan jika engkau dari bangsa yang merdeka, senangkanlah hatimu! Sebab engkau duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain, ada bagimu kesempatan mencari kekuatan baru. Kemerdekaan itu mesti diisi dengan bahan-bahan yang baik, dan bagimu terbuka kesempatan-kesempatan yang seluas-luasnya untuk itu.

Kalau engkau hidup dalam kalangan orang-orang yang kenal akan iri dan cita-cita engkau, faham mereka siapa engkau, senangkanlah hatimu! Karena disana dapat engkau mengusahakan tenaga muda setiap hari, dan kekuatanpun bertambah, roh serta semangat menjadi baru. Engkau bertambah subur dan tegak, menaungi lautan dan daratan.

Dan kalau engkau hidup dalam kalangan masyarakat yang masih rendah , yang tidak mengerti bagaimana menghargai cita-cita orang, sehingga merasa “sial-dangkal”,, maka senangkan juga hatimu! Karena dengan itu engkau beroleh kesempatan jadi burung, lebih tinggi terbangmu daripada orang-orang yang patah sayap itu. Engkau boleh melayang kesuatu langit khayal, untuk mengobat fikiranmu yang gelisah, untuk melepaskan dahaga jiwamu.

Kalau dicintai orang dan mencintai, senangkanlah hatimu! Tandanya hidupmu telah berharga, tandanya engkau telah masuk daftar anak bumi yang terpilih. Tuhan telah memperhatikan belas kasihan-Nya kepadamu lataran pergaduhan hati sesama makhluk. Dua jiwa diseberang masyrik dan magrib telah terkungkung dibawa satu perasaan didalam lindungan Tuhan. Disanalah waktunya engkau mengetahui rahasia perjalanan matahari didalam falak, ketika fajarnya dan terbenamnya, tandanya Tuhan telah membisikkan ketelingamu nyanyian alam ini. Lantaran yang demikian dua jiwa berenang dilangit khayal, diwaktu orang lain terbenam. Keduanya berdiam didalam kesukaan dan ketenteraman, bersenda gurau diwaktu bersungguh-sungguh.

Dan jika engkau mencintai tetapi cintamu tak berbalas, senangkan jugalah hatimu! Karena sesungguhnya orang mengusir akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepada orang yang diusirnya itu setelah dia jauh dari matanya ; dia akan cinta, yang lebih tinggi derajatnya daripada cinta lantaran hawa. Terpencil jauh membawa keuntungan insaf, kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan. Sehingga lantaran itu hati akan bersih, laksana bejana kaca yang penuh berisi air khulud, air kekal yang dianugerahkan Tuhan. Dengan sebab itu, kalau tak ada pada insan, akan ada pada yang lebih kekal dari pada insan. Bersedialah menerima menyuburkan cinta, walaupun bagaimana besarnya tanggunganmu, karena cinta memberi dan menerima, cinta itu gelisah, tetapi membawa tenteram. Cinta mesti lalu dihadapanmu, sayang engkau tak tahu bila lalunya. Hendaklah engkau jadi orang besar, yang sanggup memikul cinta yang besar. Kalau tak begitu, engkau akan beroleh cinta yang rendah dan murah, engkau menjadi pencium bumi, engkau akan jatuh ke bawah, tak jadi naik ke dalam benteng yang kuat dan teguh, benteng yang gagah perkasa yang sukar tertempuh oleh manusia biasa.

Karena tugu cita-cita hidup itu berdiri diseberang kekuasaan dan kemelaratan yang diletakkan oleh kerinduan kita sendiri.Merasa tenteramlah selalu, senangkaniah hatimu atas semua keadaanmu, karena pintu bahagia ketentereman itu amat banyak tak terbilang, kesulitan perjalanan hidup kian menit kian baru.

Merasa senanglah selalu! Merasa tenteramlah!

Sumber : tahajud modern oleh HAMKA

Oleh: elqassam | September 3, 2007

Hello world!

Dunia.. penuh dgn tulisan… menjelajah alam maya… ungkapkan rasa hati dan jiwa serta akal…

tetapi semua harus karena NYA…

Temukan aku dalam buah tangan, akal dan hatiku… temukan aku….

Kategori