Teruntuk saudara kami yang bersama Allah,
Salam Untukmu,
Kami tahu, betapa engkau tengah memadu kasih dengan NYA, menikmati cinta Nya, dan mencintai Nya sepenuh hati kalian… Tapi, tahukah engkau, kami disini, kami orang-orang yang tengah dan pernah menyimpang dari jalan NYA, engkau melupakan kami, engkau meninggalkan kami… Tahukah engkau, bahwa diantara dosa kami, fitrah kami yang tidur bahkan mati, memintamu untuk membangunkan kami..
Tahukah engkau, kami orang-orang yang kehilangan Allah dari hati kami, orang-orang yang ketika suara penyerunya diperdengarkan, tengah asyik dalam menikmati dunia, menikamti nafsu kami, orang-orang yang bahkan ketika tengah sholat, namun hanya beroleh kehampaan, membutuhkan Allah lewat uluran tanganmu, senyummu untuk kami…
Tahukah engkau, berat perjalanan kami untuk kembali kepada NYA, berat bagi kami untuk mencari cinta NYA, karena kami belum terbiasa, karena kami, belum memahaminya, karena kami terlalu hitam, karena kami terlalu keras, karena kami terlalu buta, karena kami terlalu nafsu…
Tapi engkau tertawa, menertawai kami, yang penuh kelemahan, engkau menganggap kami bodoh, engkau meninggalkan kami, karena merasa engkaulah yang terbaik dalam agama ini, benarkah? tanyalah pada dirimu sendiri…
Tahukah engkau, kami memang bukan golonganmu, kami bukan kelompokmu, tapi sungguh kami membutuhkan uluran tanganmu, karena Allah terasa sangat jauh bagi kami, dan kami, memerlukan engkau yang telah terbiasa bersama Nya, dekatkan kami dengan Nya…
Tapi engkau, meninggalkan kami, engkau merasa lebih perlu membantu di ujung pulau, tapi engkau lupa pada kami tetanggamu, engkau merasa perlu membantu diujung lautan, tapi engkau lupa kami, sahabatmu.. bukankah lebih baik jika engkau membantu kami bersama-sama, semua…
Engkau melupakan kami, saudaramu…
Engkau telah tahu, tapi pahamkah engkau, bahwa kami bagian dari tubuhmu yang engkau cintai, bukankah engkau tak ingin ada bagian tubuhmu yang merasakan panasnya neraka? Lalu mengapa engkau meninggalkan kami..
Tahukah engkau, engkau telah menjauhkan kami darimu, dengan menciptakan jurang pemisah yang lebar, yang hanya dapat dilompati oleh orang-orang dari kami yang memiliki tekad kuat, dan yang telah mendapatkan nikmat hidayah Allah, engkau membuat istilah-istilah yang sulit kami pahami, engkau menciptakan bahasa yang tak kami mengerti, engkau membuat kelompokmu sendiri, merasa engkau yang paling benar, dan engkau telah melupakan kami…
Engkau, membuat kelompokmu sendiri, kelompok dimana kami kesulitan untuk menjamahnya, menjadikannya sebagai bagian dari hati kami…
Setiap manusia, akan berkumpul dengan sejenisnya, dan kami tidak akan berkumpul denganmu, kami tidak akan berkumpul dengan orang-orang yang melupakan kami, kami akan berkumpul dengan Nya atau bahkan kami tetap akan berkumpul dengan penjahat-penjahat hati, yang lebih sigap mencari mangsa…
Benarkah engkau mengingat kami dalam doamu? Tapi mengapa tiada uluran tangan darimu, sebagai wujud nyata doamu…
Engkau mungkin merasa belum benar-benar mampu merengkuh kami, dengan alasan, sedikit ilmumu, dengan dalih, mulai dari diri sendiri, tahukah engkau, engkau egois, engkau telah menjadi kikir kepada saudaramu, engkau telah menafikan kami, bagian dari tubuhmu, mengapa engkau tidak berkata, ayo kita mulai bersama-sama… engkau tidak mengajak kami, ayo kita mulai bersama-sama…
Ilmumu yang sedikit telah membuatmu kikir berbagi dengan kami, kapankah engkau kan berilmu yang banyak, sedangkan ilmu didunia begitu luasnya, bagaimana jika engkau telah beroleh ilmu yang banyak? Mungkin engkau akan melupakan kami…
Para Kaisar kafir pun pernah mendapat surat cinta dari Sang Nabi, para sahabat Rasul pun pernah mengirimkannya, tapi mengapa engkau tak mengirimkan sepucuk surat cintamu pada kami, saudaramu sendiri…
Hati kami memang tlah keras, hitam, mati, tapi bagaimana dengan hatimu terhadap kami…
Wahai saudara kami, sungguh lemah iman kami, sehingga ketika kami jatuh, rengkuhlah tangan kami, ketika kami lupa, ingatkan kami, ketika kami rusak, perbaiki kami, ketika kami teraniaya dan terzalimi, menangkan kami, ketika kami bersedih, ceriakan kami, ketika kami lapar, beri kami makan, ketika kami telanjang, beri kami pakaian, ketika kami salah, ingatkan kami tentang Allah, karena engkaulah kekasih Allah…
Wahai saudara kami, bukankah kita harus saling mengingatkan dalam kesabaran, kebenaran? Kami telah mengingatkan engkau, maka kami menunggumu untuk mengingatkan kami…
Surga itu bukanlah milikmu, janganlah engkau ingin memasukinya sendiri, seolah engkau adalah pemiliknya…
Sukakah engkau memakan daging saudaramu sendiri? Berdiri gembira diatas kehancuran kami…
Engkau tak ingin neraka, karena engkau tahu beratnya siksa, tapi mengapa engkau membiarkan kami memasukinya… telah putihkah hatimu…?
Ummati… ummati.. ummati… Rasulullah menangis mengingat kami, ketika Sang Izrail menjemputnya, tapi mengapa engkau malah menyebut, ana.. ana.. ana… lupakah engkau terhadap kami, akhi.. akhi.. akhi…
Tidak takutkah engkau, bahwa akan ada orang-orang diantara kami, yang akan menuntumu nanti, atas apa yang telah engkau lakukan kepada kami, meninggalkan kami, melupakan kami, saudaramu sendiri…
Kami mungkin membencimu, membakarmu, menghinakanmu, tapi itu sungguh karena kami tak tahu, belum tahu.. beri tahu kami…
Kami yang tak tahu, maka beri tahu kami, karena sesungguhnya kami ingin, jika kami tahu…
Tahukah engkau wahai saudara kami…Dalam tangis ini, kami merinduimu, orang-orang yang bersama Allah, kami merindui Mu, Ya Rabb…Dalam kerasnya hati, matinya hati, hitamnya hati kami, kami merinduimu, orang-orang yang bersama Allah, kami merindui Mu, Ya Rabb…Bukalah matamu lebar-lebar, dengarkanlah baik-baik, hiruplah dalam-dalam, sentuhlah dengan pasti, kami ada disekitarmu…
Kami yang tidak tahu, menuliskan ingin kami dalam coretan-coretan usang, beri tahu kami, atau… Lembaran Tjoretan Oesang ini terbang bersama angin, jatuh di lumpur hitam, dan terlupakan…